Hari Bara Ketua DPC Grib Jaya Ponorogo Tak Nyangka Atas Kepergian “Hari/ Dekik” Untuk Selamanya

Mabes Bharindo.com.Ponorogo.

PONOROGO – Tidak ada yang menyangka pertemuan sehari sebelumnya menjadi perjumpaan terakhir. Hari Bara, Ketua DPC GRIB Jaya Ponorogo, masih sempat menjenguk Hari Prasetyo alias Dekik, wartawan Simetris, yang tengah berjuang melawan penyakit komplikasi.

Saat itu, komunikasi antara Hari Bara dan Dekik masih berjalan lancar. Tidak ada tanda-tanda bahwa keesokan paginya kabar duka akan datang.

Dekik berpulang pada Sabtu, 5 September 2026 sekitar pukul 05.30 WIB di rumah duka, Desa Koripan, Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Ia meninggal setelah sebelumnya sempat menjalani perawatan di Solo.

“Itu pertemuan terakhir saya. Kita semua nggak menyangka,” ujar Hari Bara mengenang perjumpaannya dengan Dekik.

Menurutnya, ketika dijenguk sehari sebelum meninggal, Dekik masih dapat berkomunikasi dengan baik. Ia hanya mengaku tubuhnya sedang sakit.

Kabar kepergian Dekik kemudian menyebar cepat di kalangan wartawan dan sahabat-sahabatnya. Rumah duka di Desa Koripan pun ramai didatangi pelayat, mulai keluarga, tetangga, rekan media hingga orang-orang dari berbagai desa yang pernah bersinggungan dengan perjalanan Dekik sebagai pendamping desa.

Di mata rekan-rekan media, Dekik bukan sekadar wartawan. Ia dikenal sebagai sosok yang mudah bergaul, setia kawan dan memiliki kepedulian kuat terhadap sesama jurnalis.

“Mas Dekik orangnya baik sekali. Selalu memperhatikan nasib kawan,” ujar Nanang. Pernyataan itu diamini Fajar, Juwaini dan sejumlah rekan media lainnya saat bertakziah.

Sebelum terjun ke dunia jurnalistik, Dekik lebih dahulu aktif dalam dunia pendampingan desa. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum kemudian dikenal sebagai wartawan yang konsisten menjalankan tugas jurnalistik.

Di rumah duka, suasana haru semakin terasa ketika keluarga mengenang perjuangan Dekik melawan penyakitnya.

Orang tua Dekik menuturkan, almarhum sebelumnya sempat menjalani perawatan di Solo. Bahkan keluarga telah merencanakan pemeriksaan lanjutan dalam waktu dekat.

“Sebelumnya telah dirawat di Solo. Rencana Minggu depan mau kontrol lagi,” tutur sang bapak lirih, sembari mengusap air mata.

Namun rencana itu tak pernah terlaksana. Subuh menjelang pagi, Dekik mengembuskan napas terakhir di samping bapaknya.

Kepergian tersebut menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang yang selama ini mengenalnya. Para pelayat terus berdatangan hingga selepas pemakaman yang berlangsung di pemakaman desa setempat, tak jauh dari rumah orang tuanya.

Dekik telah pergi. Tetapi bagi kawan-kawannya, yang tertinggal bukan hanya berita-berita yang pernah ia tulis. Ada kenangan tentang seorang kawan yang selalu hadir, memperhatikan dan peduli ketika sesama sedang membutuhkan.

Dan pertemuan terakhir itu kini menjadi kenangan yang tak akan mudah dilupakan.

“Kita semua nggak menyangka.”

Selamat jalan, Mas Dekik.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa almarhum, menerima amal ibadahnya, melapangkan kuburnya dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Karya boleh berhenti, tetapi jejak kebaikan dan kesetiaan seorang kawan akan tetap hidup dalam ingatan.(HR/red)

share it
Facebook
Twitter
LinkedIn
Reddit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *